Allah Swt. mensyariatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai sarana membentuk ketakwaan, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) bahwa tujuan puasa adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.
Rasulullah SAW pun menegaskan dalam hadis riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’: “Sesungguhnya puasa adalah perisai. Maka apabila seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata keji dan jangan berbuat jahil. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Hadis ini menegaskan bahwa puasa adalah benteng yang menjaga diri dari dosa dan kemaksiatan.
Puasa menjadi bentuk komunikasi spiritual antara hamba dan Allah Swt. Saat berpuasa, seorang muslim belajar menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perkataan dan perbuatan. Inilah makna batin dari puasa menguatkan hubungan vertikal kepada Allah sekaligus memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Para ulama juga mengingatkan bahwa puasa tidak akan sempurna tanpa menjaga lisan. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Al-Ghazali menjelaskan pentingnya menjaga lidah dari dusta, ghibah, fitnah, dan perdebatan sia-sia. Lidah yang terjaga adalah bagian dari kesempurnaan puasa. Bahkan Bisyr bin Harits meriwayatkan ucapan Sufyan bahwa ghibah dapat merusak nilai puasa. Karena itu, puasa sejati adalah puasa seluruh anggota tubuh, bukan hanya menahan makan dan minum.
Bulan Ramadhan semakin menguatkan dimensi spiritual ini. Tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, dzikir, dan sedekah menjadi amalan yang mengiringi puasa. Dengan merasakan lapar dan dahaga, kita disadarkan akan nikmat Allah Swt. yang sering kali terlupakan. Sebagaimana dijelaskan oleh Izzuddin bin Abdissalam dalam Maqashid As-Shaum, seseorang baru memahami nilai nikmat ketika ia merasakan kehilangan.
Semoga melalui pemahaman ini, puasa yang kita jalani benar-benar menjadi perisai diri, pembentuk akhlak mulia, serta jalan menuju derajat takwa. Mari jadikan momentum Ramadhan sebagai sarana memperbaiki diri, menjaga lisan, menahan amarah, dan memperbanyak amal kebaikan. Karena sejatinya, orang yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya di hadapan Allah Swt.
Day 2 Ramadan
#ramadanwithsanvalasCopyright © 2017 - 2026 MTs Negeri 14 Jakarta Timur All rights reserved.